of 8
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.

Amphibia and Reptiles of Karst Gunung Sewu of Batur Agung Zone,Gunungkidul

Category:

Resumes & CVs

Publish on:

Views: 5 | Pages: 8

Extension: PDF | Download: 0

Share
Description
Amphibia and Reptiles of Karst Gunung Sewu of Batur Agung Zone,Gunungkidul
Transcript
  Biota Vol. 18 (2): 75 − 82, Juni 2013 ISSN 0853-8670 Amfibi dan Reptil Karst Gunung Sewu Zona Batur Agung, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta Amphibians and Reptile from Gunung Sewu Karst of Batur Agung Zone, Gunung Kidul, Yogyakarta Special Province   Tony Febri Qurniawan  Fakultas Biologi, Universitas Gajah Mada Yogyakarta    Email: tony_qurniawan@yahoo.com Abstract An inventory study of amphibians and reptiles from Karst Zone Batur Agung Gunung Kidul, Yogyakarta was carried out for first time. Exploration was conducted in July   August 2007, May   June 2008 and April 2009 at four districts of Patuk, Playen, Ngawen and Gedangsari. The results showed findings of 9 species of amphibians and 22 species of reptiles. Total of those amphibians and reptiles were recorded, the largest species of amphibian was Duttaphrynus melanostictus   (Bufonidae) and Fejervarya limnocharis   (Dicroglossidae). The largest species of reptile was Hemydactylus frenatus   (Gekkonidae), Lygosoma bowringii   (Scincidae), Ramphotyphlops braminus   (Typhlopidae), Eutropis multifasciata   (Scincidae) and Ahaetulla prasina   (Colubridae). Keywords: Biodiversity, herpetofauna, Wanagama forest, Wonosadi forest, Bunder forest Abstrak Studi inventarisasi amfibi dan reptil telah dilakukan untuk permata kali di Zona Karst Batur Agung Gunung Kidul Yogyakarta. Penelitian berlangsung dari bulan Juli   Agustus 2007, Mei   Juni 2008 dan April 2009 di empat kecamatan, yaitu Patuk, Playen, Ngawen, dan Gedangsari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 9 jenis amfibi dan 22 jenis reptil. Total keseluruhan jumlah jenis amfibi dan reptil tersebut, jenis amfibi yang melimpah yaitu Duttaphrynus melanostictus (Bufonidae) dan  Fejervarya limnocharis (Dicroglossidae). Jenis reptil yang melimpah yaitu Hemydactylus frenatus   (Gekkonidae),  Lygosoma bowringii (Scincidae), Ramphotyphlops braminus   (Typhlopidae), Eutropis multifasciata (Scincidae)   dan Ahaetulla prasina   (Colubridae). Kata kunci: Biodiversitas, herpetofauna, hutan Wanagama, hutan Wonosadi, hutan Bunder Diterima: 25 April 2013, disetujui: 25 Mei 2013 Pendahuluan Kabupaten Gunung Kidul merupakan salah satu dari tiga kabupaten yang dilewati deretan dataran tinggi Karst Gunung Sewu di Pulau Jawa. Karst berasal dari bahasa Slovenia yang berarti tanah tandus berbatu (Haryono dan Adji, 2004; Suryono, 2006). Berdasarkan topografinya, kawasan karst di Kabupaten Gunung Kidul dapat dikelompokkan menjadi 3 zona, yaitu zona Batur Agung sebagai zona karst bagian utara, zona Ledok Wonosari sebagai zona karst bagian tengah dan zona Pegunungan Seribu sebagai zona karst bagian selatan (Haryono, 2000). Kawasan Karst Gunung Sewu zona Batur Agung berpotensi sebagai kawasan objek wisata geologi. Daerah yang termasuk Zona Batur Agung meliputi lima kecamatan, yaitu Patuk, Nglipar, Ngawen, Semin dan Gedangsari. Sebagai kawasan karst bagian utara, Zona Batur Agung memiliki kondisi topografi yang berbeda dengan zona karst lainnya. Pada zona karst utara banyak didominasi oleh hutan yang masih terjaga kelestariannya (hutan Wonosadi, hutan Wanagama dan hutan Bunder). Keadaan   Amfibi dan Reptil Zona Karst Batur Agung Gunung Kidul Yogyakarta 76 Biota Vol. 18 (2), Juni 2013 tersebut berbeda dengan zona karst selatan dan zona karst tengah, zona karst selatan didominasi daerah pesisir pantai sedangkan zona karst tengah didominasi oleh daerah yang  banyak memiliki goa karst. Keberadaan hutan karst di Zona Batur Agung memunculkan suatu habitat tersendiri bagi amfibi dan reptil. Secara ekologi, amfibi, dan reptil memiliki peranan  penting dalam ekosistem sehingga keberadaannya ikut menjaga kelestarian keberadaan fauna lainnya. Apalagi tidak semua  jenis amfibi dan reptil dapat beradaptasi dan dapat hidup lestari di kawasan karst (Howell, 2002; Eprilurahman dkk  . , 2010). Hingga saat ini penelitian mengenai keanekaragaman jenis amfibi dan reptil di kawasan karst tersebut masih sangat minim terbatas pada penelitian yang dilakukan oleh Muharomi   dkk., pada tahun 2006. Berdasarkan permasalahan di atas, perlu dilakukan penelitian inventarisasi lanjutan. Penelitian ini dilakukan bertujuan mengidentifikasi dan mendata jenis amfibi dan reptil yang hidup di Zona Batur Agung, Gunung Kidul, Yogyakarta. Diharapkan informasi yang didapat akan melengkapi data  biodiversitas kawasan karst yang telah ada dan  berguna untuk perencanaan pengelolaan dan  pengembangan kawasan karst pada masa mendatang. Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan dua kali  periode pengambilan sampel yaitu secara diurnal (dari pukul 07.00  –  10.00 WIB) dan nokturnal (dari pukul 19.00  22.00 WIB) pada setiap lokasi penelitian. Penelitian ini dilakukan  pada waktu musim hujan dan musim kemarau yaitu bulan Juli  Agustus 2007, Mei  Juni 2008 dan April 2009. Sebanyak sebelas lokasi  pengambilan sampel yang digunakan dalam  penelitian ini dan dikelompokkan menjadi empat pusat lokasi utama, yaitu: 1). Kecamatan Patuk dengan ketinggian 129  200 m dpl. Penelitian dilakukan di hutan Bunder yang terletak 110 o   32’ 51” BT dan 7 o   53’ 31” LS. 2). Kecamatan Playen dengan ketinggian 120  220 mdpl. Penelitian dilakukan di tahura Wanagama I yang terletak 110 o   30’ 22” dan 110 o   33’ 3” BT dan antara 7  0   53’ 25” dan 7 o   54’ 52”  LS dengan tiga lokasi sampling, yaitu dipetak 13, 14 dan 17. 3) Kecamatan Ngawen dengan ketinggian 200  700 mdpl. Penelitian dilakukan di hutan adat Wonosadi yang terletak 110 o   22’ 35” dan 110 o   35’ 2” BT dan antara 7  o   45’ 56” dan 7 o   46’ 40”  LS dan empat lokasi  pengambilan sampel yaitu aliran air blembem,  jalan setapak utama, lereng kedawung dan area  persawahan. 4) Kecamatan Gedangsari dengan ketinggian 300-600 mdpl. Penelitian dilakukan di desa Hargomulyo dengan tiga lokasi sampling, yaitu dusun Mangli (110 o   35’ 26” dan 110 o   36’ 03” BT dan antara 7 o   48’ 32” dan 7  o   49’ 58”  LS), Jatibungkus (110  o   35’ 32” BT dan 7 o 49’ 40”  LS) dan Jatirejo (110 o   35’ 59” BT dan 7 o   50’ 18”  LS). Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode VES ( Visual Encounter Survey ) (Heyer dkk  . , 2004). Data yang diambil untuk dianalisis antara lain parameter lingkungan (suhu udara, suhu air dan pH), keanekaragaman jenis, kemerataan jenis dan kelimpahan relatif. Analisis pengelompokan zona dilakukan menggunakan bantuan pogram komputer  NTSYS P.2.1. Spesimen yang tertangkap lalu didata dan didokumentasikan. Identifikasi dan  penamaan jenis spesimen antara lain menggunakan acuan identifikasi yang dibuat oleh Rooij (1915; 1917), Kampen (1923), Iskandar dan Colijn (2000; 2001) dan Frost (2013).   Berikut formula yang digunakan dalam menganalisis keanekaragaman jenis dan kemerataan jenis: Indeks keanekaragaman jenis (Odum, 1971) H = - ∑ pi ln pi   Keterangan: H: Indeks Shanon-Wiener Pi: ni/N (ni: jumlah individu jenis ke-i  N: jumlah individu keseluruhan) Indeks keanekaragaman dikatakan tinggi jika nilainya lebih dari 2,0 dan tergolong sedang  jika nilainya 1,5  2,0. Adapun indeks keanekaragaman digolongkan rendah jika nilainya antara 1,0  1,5 dan tergolong sangat rendah jika kurang dari 1,0.  Tony Febri Qurniawan   Biota Vol. 18 (2), Juni 2013 77 Indeks kemerataan (Southwood, 1971) E = H/ln S Keterangan: E : indeks kemerataan H : indeks keanekaragaman jenis S : jumlah jenis Jika nilai E mendekati 1, hal itu menunjukkan jumlah individu antar jenis relatif sama. Namun, jika lebih dari 1 ataupun kurang maka kemungkinan besar terdapat jenis dominan di komunitas tersebut. Hasil dan Pembahasan Indeks keanekaragaman dan kemerataan Berdasarkan hasil eksplorasi diperoleh data keanekaragaman jenis herpetofauna sebanyak 31 jenis yang meliputi 10 jenis lacertilia, 12 jenis ophidia dan 9 jenis amfibi. Berdasarkan perhitungan indeks keanekaragaman shanon-wiener memiliki kisaran indeks antara 0,04  0,07 dan indeks kemeraatan jenis antara 0,01  0,02 (Gambar 2). Keseluruhan perhitungan nilai indeks keanekaragaman jenis di Batur Agung yaitu sebesar 0,019. Nilai indeks tersebut tergolong ke dalam keanekaragaman yang sangat rendah (Brower dan Zarr, 1997). Indeks keanekaragaman tertinggi diperoleh di Patuk dengan nilai 0,0749 dan terendah adalah di  Ngawen 0,046. Padahal jumlah jenis yang ditemukan di Patuk lebih sedikit (10 jenis) dibandingkan dengan jumlah jenis yang ditemukan di Ngawen (28 jenis). Hal ini terjadi karena nilai indeks keanekaragaman akan tinggi jika antara jumlah jenis yang ditemukan dan kelimpahan serta kemerataannya seimbang atau tidak ada dominasi dalam komunitas tersebut (Eprilurahman dkk., 2010). Dengan demikian, meskipun jumlah jenis amfibi dan reptil di Patuk lebih sedikit daripada di  Ngawen, kelimpahan dan kemerataan di Patuk lebih tinggi daripada di Ngawen. Ini mengindikasikan bahwa populasi amfibi dan reptil di Patuk lebih stabil dan tidak rentan terhadap ancaman kepunahan. Adapun populasi amfibi dan reptil di Ngawen lebih tidak stabil dan rentan terhadap ancaman kepunahan. Gambar 1.  Peta kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Bagian yang digaris tebal (hitam) merupakan kawasan Karst Gunung Sewu Zona Batur Agung.   Amfibi dan Reptil Zona Karst Batur Agung Gunung Kidul Yogyakarta 78 Biota Vol. 18 (2), Juni 2013 Berdasarkan data penelitian keempat kecamatan tersebut terdapat beberapa jenis yang dapat dijumpai dan melimpah pada setiap wilayah penelitian serta beberapa jenis hanya dapat dijumpai pada wilayah tertentu. Keanekaragaman Batur Agung tergolong lebih sedikit jenisnya jika dibandingkan dengan keanekaragaman jenis amfibi dan reptil yang terdapat di kawasan Karst Menoreh Kabupaten Kulon Progo yang berjumlah 40 jenis (Qurniawan dan Eprilurahman, 2012; Qurniawan dan Trijoko, 2012; Qurniawan dkk., 2012). Di kawasan Karst Menoreh Kulon Progo memiliki kekayaan jenis amfibi yang lebih banyak dibandingkan dengan kawasan Karst Gunung Sewu Zona Batur Agung. Hal tersebut karena di kawasan Karst Menoreh Kulon Progo habitatnya memiliki kelembaban yang tinggi (80  82%) serta jenis tanahnya latosol yang subur sehingga banyak vegetasi dan sumber air dibandingkan Zona Batur Agung. Habitat kaya akan vegetasi dan sumber air sangat cocok untuk menopang keberlangsungan kehidupan amfibi (Duellman dan Trueb, 1994). Berbeda dengan habitat Zona Batur Agung yang minim sumber air, lebih tandus dan kering yang lebih cocok untuk kehidupan ophidia dan lasertilia. Keanekaragaman jenis dan parameter lingkungan pada setiap lokasi Lokasi pertama penelitian dilakukan di wilayah Kecamatan Patuk dengan fokus  penelitian di wilayah  Rest Area Bunder  . Wilayah tersebut memiliki vegetasi yang relatif homogen serta terdapat sungai yang melewati area tersebut. Suhu udara di lokasi penelitian  berkisar antara 25  –  27 o C, suhu air 22  23 o C. Pada wilayah ini dapat dijumpai 10 jenis herpetofauna yang terdiri dari 6 jenis lacertilia, satu jenis ophidia, dan 3 jenis amfibi. Jenis herpetofauna yang memiliki kelimpahan tertinggi adalah  Duttaphrynus melanostictus  sedangkan kelimpahan terendah adalah  Xenochrophis vittatus  (Gambar 3).  Duttaphrynus melanostictus  juga dapat dijumpai di semua wilayah penelitian dan merupakan jenis herpetofauna yang memiliki kelimpahan tertinggi di semua wilayah  penelitian.   Gambar 2. Indeks keanekaragaman pada tiap-tiap lokasi.  Gambar 3. Kelimpahan amfibi dan reptil kecamatan Patuk    nilai indeks kecamatan Jenis Jumlah  Tony Febri Qurniawan Biota Vol. 18 (2), Juni 2013 79 Lokasi kedua penelitian, yaitu di hutan Wanagama yang berlokasi di Kecamatan Playen. Hutan Wanagama memiliki luas 600 hektar dengan hutan relatif homogen. Beberapa  jenis pohon yang terdapat di Hutan Wanagama meliputi Pinus (  Pinus merkusii ), eboni (  Diospyros celebica ), gamal ( Gliricidia  sepium ), cendana ( Santalum album ), murbei (  Morus alba ), dan jati ( Tectona grandis ). Kawasan hutan Wanagama merupakan topografi perbukitan dengan lapisan tanah dari  batuan kapur (karst) kurang lebih 50% dari luas hutan Wanagama. Suhu udara di Wanagama  berkisar antara 25  –  27,5 o C, suhu air 22  23 o C. Kawasan Hutan Wanagama juga dilalui oleh  beberapa aliran sungai seperti Oya, Sendang Ayu, dan banyu Tibo. Pada kawasan ini dapat dijumpai 13 jenis herpetofauna dengan kelimpahan tertinggi adalah  Duttaphrynus melanostictus . Beberapa jenis yang hanya ditemukan sebanyak satu individu adalah  Lygosoma quadrupes ,  Pareas carinatus,  Ahaetulla prasina, dan  Rhampothyphlops braminus (Gambar 4). Lokasi ketiga penelitian, yaitu di kecamatan Ngawen yang mengambil lokasi  penelitian di hutan Wonosadi. Hutan Wonosadi terkenal dengan sumber daya alamnya yang hingga kini tetap terpelihara. Habitat hutan Wonosadi dapat dikelompokkan menjadi dua macam yakni habitat terestrial dan habitat akuatik. Habitat terestrial merupakan hutan sekunder yang masih alami. Vegetasi rapat, didominasi oleh pohon, liana dan semak. Lantai hutan penuh dengan serasah. Banyak sekali terdapat batu-batu besar baik di habitat terrestrial maupun akuatik. Habitat akuatik  berupa persawahan, kolam, sungai yang banyak mengalir menuruni lereng sebelah selatan  bukit. Sumber air berasal dari beberapa mata air yang mengalir sepanjang tahun. Badan sungai berbatu dengan vegetasi reparian berupa semak dan liana. Pengukuran suhu udara yang dilakukan selama pengamatan di lapangan  berkisar antara 19  –  23,5 o C, sedangkan suhu air  berkisar antara 19  –  22 o C. Pada lokasi ini  berhasil diinventarisasi sebanyak 28 jenis amfibi dan reptil (Gambar 5). Jenis reptil yang melimpah pada habitat terrestrial antaralain  Lygosoma bowringi ,  Gekko gecko , dan  Ahaetulla prasina , sedangkan jenis amfibi yang melimpah di habitat terrestrial, yaitu  Duttaphrynus melanostictus . Jenis amfibi yang melimpah pada habitat akuatik antaralain Occidozyga sumatranus, Fejervarya limnocharis dan  Microhyla palmipes . Jenis reptil di habitat akuatik tidak ditemukan. Jenis amfibi lebih melimpah dibanding jenis reptil karena jenis amfibi di daerah tropis umumnya musim kawin terjadi sepanjang tahun sehingga keberadaannya akan lebih melimpah di akuatik dibandingkan reptil (Duellman dan Trueb, 1994). Lokasi terakhir berada di Kecamatan Gedangsari dengan 3 wilayah pengambilan sampel yaitu Dusun Mangli, Jatiungkus dan Jatirejo. Ketiga dusun ini memiliki topografi  perbukitan batu kapur dengan dilewati banyak sungai-sungai, persawahan dan terdapat banyak hutan jati serta kebun kacang dan ubi. Suhu udara di lokasi ini berkisar antara 29  23 o C dan suhu air berkisar antara 22  23 o C. Keanekaragaman jenis herpetofauna di lokasi keempat ini berjumlah 16 jenis yang terdiri dari 3 jenis ophidia, 5 jenis lasertilia dan 8 jenis amfibi. Pada Gambar 6 dapat diketahui jenis yang melimpah adalah  Duttaphrynus melanostictus ,  Fejervarya limnocharis , dan  Eutropis multifasciata .  Fejervarya limnocharis dewasa yang ditemukan berukuran kecil (panjang SVL 1,6  2,1 cm dengan berat 5  10 gram) berbeda dari tiga kecamatan sebelumnya (panjang SVL 2,6  9,8 cm). Populasi   Fejervarya limnocharis  pegunungan kapur Gedangsari terdapat jenis kriptik, yaitu  Fejervarya iskandari .  Namun, hal ini harus dicek silang ( cross check  ) kebenarannya dengan penelitian lebih akurat sampai tingkat DNA menggunakan metode pengukuran DNA. Pengelompokan lokasi Pengelompokan zona berdasarkan kehadiran jenis-jenis amfibi dan reptil yang ditemukan di setiap lokasi, ditampilkan seperti  pada Gambar 7. Pada pengelompokan tersebut menunjukkan adanya dua pengelompokan habitat utama, yaitu antara Patuk dan Playen  berbeda dengan Ngawen dan Gedangsari. Patuk dan Playen memiliki jenis lasertilia yang sama, sedangkan Ngawen dengan Gedangsari memiliki jenis amfibi dan ophidia yang sama. Pengelompokan berdasarkan perbedaan
Tags
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks